Nama YPI (Yayasan Perguruan Islam) Al-I’anah, bagi masyarakat Kabupaten Cianjur, Jabar, sudah tidak asing lagi. Selain karena kiprahnya yang nyata dalam mencetak dan mencerdaskan anak bangsa yang beraklaqul karimah, juga merupakan salah satu perguruan Islam tertua di Kabupaten Cianjur.

Perguruan Islam yang berpusat di Jl Mesjid Agung No. 24, Kampung Kampung Kaum Cianjur itu, didirikan pada tanggal 17 September 1912 oleh RH Muhammad Nuh (Alm), yang mendapat dukungan dari para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat Cianjur waktu itu.

“Tidak hanya itu, beliau untuk mendirikan YPI – Al-Ianah mendapat izin dari pemerintah, yang pada waktu itu, berupa recht persoon, semacam badan hukum,” ujar Drs Abdul Halim Patriaman Ketua YPI – Al-I’anah Cianjur kepada Pelita di sela-sela peringatan Milad YPI Al-I’anah Ke-90 belum lama ini.

RH Muhammad Nuh, mendirikan YPI-Al-I’anah, sebagai perwujudan cita-citanya sejak belajar ilmu agama Islam, yang ingin mendirikan sebuah pesantren dengan metode pembelajaran sistem sekolah.

Nama perguruan tersebut, awalnya diberi nama ianahtuuuolib wal miskin yang artinya sesuai dengan tujuannya pada waktu itu, pertolongan bagi pelajar, dan anak-anak yang tidak mampu. Yang juga biasa disebut Al-Ianah atau ianah.

Ketika pertamakali didirikan, awalnya dari kegiatan pengajian yang dikenal pengajian Madrasah Kaum. Berlanjut dengan pendirian Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Diniyah.

Pada akhir masa penjajahan Belanda, perguruan ini, banyak menghasilkan kader ummat yang berkiprah, bukan saja di daerah Cianjur sendiri. Tetapi juga di luar daerah Cianjur seperti Sukabumi, Bogor, Bandung, Tasikmalaya, Purwakarta, Sumedang, Banten dan daerah lainnya.

Masa penjajahan Jepang, pengajar, dan siswa perguruan Al-I’anah, sebagai kepedulian dan cinta tanah airnya, banyak yang mengikuti latihan calon perwira PETA, antara lain seperti RH Abdullah bin Nuh yang menjadi Daidancho dan R Taifur Yusuf yang menjadi Chudancho. Kemudian nama R Taifur Yusuf, diabadikan untuk sebuah nama jalan yang ada di pusat kota Cianjur.

Perguruan Al-I’anah pun terus berlangsung, meskipun banyak rintangan keadaan negara dikuasai oleh penjajah. Begitu juga setelah kemerdekaan negara RI diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 terpaan terhadap keberadaan perguruan Islam ini terjadi, menyusul adanya gangguan dari serdadu Belanda.

Ketika itu, banyak pimpinan dan tokoh-tokoh Cianjur meninggalkan kota Cianjur, sehingga dengan terpaksa mulai bulan Juni 1946 perguruan Al-I’anah ditutup.

“Karena waktu itu, para tenaga pengajar dan siswa-siswanya banyak yang berjuang menjadi anggota Hibullah dan Sabilillah untuk membela agama, nusa dan bangsa, selanjutnya perguruan Al-I’anah dibuka kembali mulai tanggal 6 September 1947,” ungkap Abdul Halim.

Seiring dengan perjalanan waktu, dan perlu adanya pengembangan peningkatan dalam memberi kesempaan ehadap generasi muslim unuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, maka pada anggal 4 Juni 1950 didirikan SMI (Sekolah Menengah Islam).

Perubahan nama perguruan pun dirubah pada bulan Desember 1962 dari nama I’anatuttolib wal miskin yang tercatat dalam recht persoon menjadi YPI (Yayasan Perguruan Islam) Al-I’anah, yang dicatat dalam akta notaris Abdul Latief No. 59.

Hingga sekarang, YPI-Al-I’anah, selain memiliki Madrasah Ibttidaiyah, Madrasah Diniyah, juga memiliki Taman Kanak-kanak, SMI/SLTP, SMA Islam, STM, SPG dan perguruan tinggi STAIS (Sekolah Tinggi Agama Islam) Al-Ianah.

Visi dan misi YPI Al-I’anah, kata Abdul Galim, mewujudkan perguruan Islam Al-I’anah sebagai pembentuk insan intelektual yang berakhlaq karimah. Sedangkan misisnya antara lain, terwujudnya amaliah insani yang bernuansa Islami, baik ilmu pengetahuan dan teknologi maupun iman dan taqwa.

Keberadaan YPI-Al-I’anah di tengah-tengah tumbuh suburnya lembaga-lembaga pendidikan di kota Cianjur baik yang dikelola swasta maupun pemerintah, tidak kalah bersaing. Minat warga masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan Islam ini, cukup tinggi.

“Supaya tidak kalah bersaing, kami juga tengah melakukan berbagai pembenahan mendasar, termasuk melengkapi berbagai mata pelajaran, keterampilan, melengkapi fakultas, bahkan pembenahan berbagai fasilitas yang sudah diprogramkan,” ujar Abdul Halim.

Melalui Milad YPI Al-I’anah Ke 90, pihak pengurus yayasan akan menjadikan tonggak sebagai langkah untuk lebih meningkatkan dan mengembangkan yayasan perguruan Islam sebagai sarana untuk mencetak anak-anak bangsa yang berakhlaqul karimah.

Iklan